Festival Film Anak (FFA)

Festival Film Anak (FFA) Indonesia merupakan perhelatan akbar tahunan yang mengapresiasi karya anak-anak Indonesia untuk film fiksi dan dokumenter. Yayasan Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) bekerjasama dengan berbagai pihak sejak tahun 2008 secara konsisten terus menyelenggarakan even ini. Sampai dengan tahun 2013, terdata sekitar 120 film karya komunitas film anak dari Aceh sampai Jawa Timur berkompetisi pada ajang ini. Anak-anak Indonesia tidak perlu menjadi Superman, tetapi harus didorong untuk bisa menjadi Superteam.

Sekretariat FFA Indonesia

Jumat, 11 Januari 2013

Semangat Baru FFA Lewat Kunjungan British Council


                                                                     Oleh Ismail Marzuki
Semangat dan rasa gembira atas acara Penganugrahan Festival Film Anak (FFA) rasanya masih belum hilang. Masih teringat jelas wajah-wajah ceria para sineas anak yang menang dan memegang hadiah. Cuplikan film mengiringi para pemenang saat mereka menuju tempat penyerahan hadiah. Riuh tepuk tangan juga seakan tidak berhenti saat itu.

Saat ini, belum lagi lengkap sebulan setelah acara penganugrahan, tanggal 03 Januari kemarin sebuah pesan singkat masuk. Pesan itu berasal dari pengirim bernama Camelia, seorang perwakilan British Council Jakarta. Camelia, yang lebih akrab disapa Kemi merencanakan kunjungannya ke Medan untuk bertemu penanggungjawab kegiatan FFA. Sesaat itu juga rencana kunjungan itu kami apresiasi dengan baik, hal ini tentunya dengan harapan Kemi dan British Councilnya mendapatkan informasi yang jelas.

Setelah empat hari menunggu rencana kunjungan Kemi, akhirnya kami sampai juga pada hari Selasa tanggal 8 Januari 2013 sesuai rencana pertemuan. Jam sudah menunjukan hampir pukul tiga sore, namun Kemi masih juga belum sampai. Penantian itu tidak begitu lama, setelah sebuah pesan singkat masuk. Dan ternyata benar, itu dari Kemi. Ia hanya sampaikan mohon maaf karena perjalanannya dari kampus Unimed akan memakan waktu cukup lama dan mungkin terlambat.

Melihat pentingnya FFA tetap harus dikampanyekan ke berbagai pihak, akhirnya kami, aku dan bang Misran menawarkan untuk pertemuannya dijadwalkan ulang pada malam hari. Tawaran itu bersambut baik dengan Kemi kembali menawarkan pertemuan informal di Merdeka walk pada pukul 20.00 Wib malam.

Sesampainya di Merdeka walk, segera ku temui bang Misran yang sudah menunggu. Ku lihat juga Shadiq, anaknya sedang asik menikmati salah satu permainan ditemani Ibunya. Pesan singkat Kemi kembali masuk yang mengarahkan kami masuk ke salah satu tempat di tikungan jalan.

Ternyata saat itu Kemi tidak sendiri. Ada beberapa laki-laki dan perempuan sebanya duduk saling berhadapan. Ternyata mereka masih berasal dari Medan, ada yang dari Da’ai TV, perwakilan majalah remaja, dan perwakilan media radio. Namun mereka tidak bergabung lama, karena sebelumnya sudah mengadakan pembicaraan dengan Kemi. Dan merekapun berpamitan pulang terlebih dahulu.

Hanya tinggal Kemi dan temannya, bernama Elsa, satu tim Kemi di British Council. Setelah perkenalan singkat dan sedikit bersenda gurau, keduanya membuka buku catatan kecil. Elsa terlihat dengan santai menanyakan hal-hal seputar FFA kepada bang Misran, dan tentu jawaban-jawaban bang Misran sangat jelas dan terperinci diutarakan. Sejarah, maksud dan tujuan, siapa saja yang pernah terlibat, prestasi perjalanan FFA, minat sineas anak, cakupan wilayah, workshop, proses administrasi, penjurian sampai pada penganugrahannya disampaikan dengan jelas. Bang misran menyampaikan juga bahwa sampai pada tahun 2012 sudah ada sebanyak 102 film yang ikut kompetisi FFA.

Penjelasan itu membuat pihak British Council sangat tertarik. Mereka memiliki banyak jaringan yang terbiasa melakukan kegiatan dalam hal pertunjukan, kebudayaan, pelatihan dan diskusi seniman. Secara pribadi Elsa sampaikan, walaupun untuk pertemuan kali ini masih dalam tahap saling mengenal, namun tidak menutup kemungkinan ke depan bisa melakukan kerjasama dalam kegiatan anak dan remaja.

Selasa, 08 Januari 2013



Gebyar Penganugrahan Festival Film Anak 2012

Suasana hari Sabtu yang biasanya sepi di lingkungan Radio Republik Indonesia (RRI) jalan Gatot Subroto Medan saat itu berubah total. Pagelaran musik di pelataran depan membuat beberapa pengendara berhenti. Belum lagi sekitar 250 orang tamu masuk dan memadati gedung serbaguna radio milik negara tersebut. Ratusan anak yang berusia di bawah 18 tahun bercampur dengan tamu-tamu dewasa dalam acara Penganugrahan Festival Film Anak 2012 (15/12).

Festival Film Anak, atau yang lebih dikenal dengan FFA merupakan kegiatan tahunan yang dilakukan oleh Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) bekerjasama dengan berbagai kalangan sineas film seperti Sineas Film Dokumentary (SFD) dan Opieque Pictures dan sineas lainnya. Selain itu tahun ini keterlibatan Kinder Not Hilfe (KNH), Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana serta Pemerintah Kota Medan, juga RRI Medan sebagai media partner  sangat membantu.

Sebagai rangkaian kegiatan penganugrahan tersebut, penyelenggara juga menghadirkan hiburan tari persembahan anak-anak, nyanyian, modren dan sufle dance, serta music bigbox. Setelah pembukaan secara resmi dilakukan oleh ibu drg. Usma Polita Nasution M.kes sebagai perwakilan Walikota Medan, Master of Ceremony (MC) yang dibawakan oleh Uya dan Intan pun langsung menyampaikan nominasi insan dan film terbaik kategori dokumenter FFA 2012.

Suara para peserta dan tamu membahana saat mengapresiasi film yang tampil dalam trailer. Untuk insan  sutradara terbaik kategori film dokumenter dimenangkan oleh Rangga Setiawan dalam film Kota Harapan produksi Fila Komunitas, editor terbaik Ayril dalam film Dimana? produksi Medan Magnet dan penulis cerita terbaik oleh Mujiono dengan film Kota Harapan. (Ismail M)

Pengunjung